Friday, August 1, 2014

AGRO TAWON DAN WISATA PETIK MADU

11:37 PM

Memelihara lebah sejak tahun 1978 awalnya hanya pengisi waktu luang. Beberapa kotak lebah lokal dipelihara untuk dimanfaatkan madu dan larvanya bagi keluarga dan para tetangga. Kegiatan itu kemudian berkembang menjadi peternakan lebah yang cukup besar dengan diversifikasi kegiatan yang saling mendukung.
Sekarang peternakan lebah itu menjadi payung usaha bagi keluarga Gunawan sekaligus bagian dari kegiatan sosial. Itulah kegiatan usaha yang bernaung dibawah Peternakan Lebah Rimba Raya di Lawang, Kabupaten Malang, Jawa Timur.
Setelah pindah rumah dan mengembangkan jenis lebah lain, sejak tahun 1995, Gunawan mengajari putranya, Hariyono mengembangkan peternakannya dengan melakukan berbagai terobosan mengenai produk lebah maupun bidang kegiatan yang bisa dikaitkan dengan peternakan lebah.
Selain produk asli berupa madu, polen, propolis, dan royal jelly, usaha ini juga memproduksi sejumlah produk seperti madu propolis infeksi, madu propolis alergi dan cuka madu propolis. Setiap produk mengandung manfaat yang berbeda-beda.
Diversifikasi kegiatannya dalam wadah Agro Tawon dan Wisata petik Madu adalah toko buah dan produk-produk lebah, pembibitan lebah, pelatihan ternak, pembibitan beberapa jenis tanaman, pertanian organik, wahana outbound dan restoran.
Hariyono sehari-hari menangani peternakan lebah termasuk ketiga adiknya sebanyak 1200 koloni. Selain beternak, ia juga menjelaskan soal penangkaran lebah (koloni), pengenalan seluk beluk ternak lebah kepada para tamu, pelatihan beternak dan terapi sengat lebah.
Terus berkembang.  Dari kegiatan mengisi waktu dengan 3-5 koloni lebah lokal tahun 1980, tujuh tahun kemudian kegiatan itu menjadi peternakan lebah di lahan sekitar 1.700 m persegi. Sejak tahun 1985 juga diternakan lebah impor yang produksi madunya bisa mencapai sekitar 30 kg per koloni per tahun. Angka produksi ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan lebah lokal dengan produksi 5-15 kg per koloni setiap tahun. Sementara lebah klanceng hanya menghasilkan 4-5 kg madu per koloni per tahun.
Ketekunan membuat usaha peternakan ini berkembang. Area peternakan terus bertambah menjadi 6,5 hektar pada 2014. Kegiatan usahanya pun melebar dan melibatkan keluarga serta pihak luar. Ayahnya kini menangani pengolahan, pengemasan, dan pemasaran produk lebah. Kegiatan lain seperti restoran, toko buah, dan biogas diserahkan kepada adik-adiknya.
Tidak semua kegiatan yang dikelola Hariyono bersifat bisnis. Pengenalan dan pembelajaran beternak lebah dengan semua produknya serta terapi sengat lebah dilakukan tanpa memungut bayaran.
Memahami madu asli. Dalam acara pengenalan lebah, Hariyono selalu memaparkan aneka kiat untuk membedakan madu asli dengan madu tiruan, termasuk membantah berbagai pedoman salah kaprah tentang madu asli.
Hariyono juga menyediakan koloni lebah untuk dijual, baik lebah lokal, lebah impor maupun klanceng. Selain di Jawa, peminat koloni lebah juga berasal dari daerah luar Jawa. Harga lebah tergantung dari jenis dan besar kecilnya.
Hariyono juga berbagi peluang bisnis , bekerja sama dengan beberapa pensiunan kebun raya dan LIPI dengan sistem bagi hasil, mengembangkan peternakan lebah. Hal serupa dilakukan dengan para peternak di beberapa tempat yang menjadi area penggembalaan lebah seperti Pati, Jepara, Pasuruan dan Banyuwangi.