Wednesday, August 6, 2014

SOVENIR KHAS JAKARTA

10:51 AM
SOVENIR KHAS JAKARTA. Setelah menyelesaikan studi di Singapura, Ayu Rahmawaty kembali ke Jakarta dengan harapan bisa mendapatkan pekerjaan layak dengan gaji tinggi. Sekembali ke Jakarta Ayu pun melamar ke berbagai perusahaan namun tak satu pun perusahaan yang didatangi memberikan penawaran gaji sesuai keinginannya. Mulailah tebersit dalam benaknya untuk membuka usaha sendiri dengan membuat berbagai sovenir khas Jakarta. Seperti yang ia lihat di setiap tempat perbelanjaan dan tempat wisata di Singapura selalu ada sovenir.

Ayu melihat belum ada pelaku bisnis yang berkecimpung dalam bisnis sovenir khas Jakarta sehingga menambah semangat untuk merealisasikan ide usahanya. Tak membuang waktu, awal tahun 2005 Ayu pun mulai merintis usaha dengan modal awal yang cukup minim hanya  Rp. 10 juta. Modal itu dibelikan bahan baku, peralatan seperti kompresor, amplas, ember dan gaji karyawan. Memasuki tahun 2006 Ayu mendaftarkan dirinya masuk menjadi mitra binaan UMKM DKI Jakarta. Melihat respon dan potensi pasar usahanya yang bagus, Ayu mendapatkan suntikan dana tambahan dari BUMN Telkom sebesar Rp. 100 juta dengan masa pengembalian 2 tahun.

Tempat produksi Ayu menempati kios seluas 3x3 m di bilangan Klender Jakarta Timur yang ia jadikan workshop dengan sewa per bulan Rp. 15 juta. Namun berkat omzet yang terus meningkat, di tahun 2007 workshop tersebut dibelinya seharga Rp. 120 juta.

Wanita kelahiran 46 tahun ini mendapatkan keahlian dengan mendesain setiap produk dengan belajar secara otodidak. Ia punya hobi melukis sehingga sedikit banyak tahu mengenai seni dan desain. Ayu sudah mematenkan Gimblett sebagai brand usahanya di HAKI.

Menurut Ayu prospek usaha sovenir Jakarta akan cerah.

Menurut Ayu prospek usaha sovenir Jakarta akan cerah. Bisa dilihat dari tahun ke  tahun jumlah konsumen mengalami tren peningkatan sebesar 20%, apalagi makin banyaknya turis domestik maupun mancanegara.

Produk. Saat memulai usaha produk sovenir pertama yang dibuat Ayu adalah T-shirt bergambar icon Jakarta dan miniatur Monas dan setelah satu tahun usahanya berjalan Ayu mulai memproduksi berbagai sovenir khas Jakarta antara lain seperti magnet tempelan kulkas berbentuk bajaj orange, miniatur abang none Jakarta, tempat menaruh pulpen berbentuk sepasang kepala ondel-ondel, pin karakter yang memiliki tangan dan kaki, miniatur Monas ukuran mini dengan bagian bawahnya terdapat per sehingga bisa bergoyang dan yang paling terbaru adalah tutup gelas berbentuk ondel-ondel dengan tinggi 18 cm. Harga yang ditawarkan antara Rp. 12 ribu-Rp250 ribu per buah.

Produk baru dikeluarkan sekitar 6 bulan hingga setahun sekali, sebanyak satu sampai dua produk baru. Untuk menentukan harga jual tergantung ongkos karyawan, daya beli konsumen, bahan baku dan tingkat kesulitan. Dari segi pelayanan ia sangat memperhatikan keluhan konsumen dengan mengganti produk yang rusak setiap pengiriman tanpa dikenakan biaya tambahan.

Eksis. Ayu mengaku hampir 10 tahun usahanya tetap eksis tak lepas dari kreasi produk secara terus menerus, mengasah kekreatifan, pangsa pasar yang luas dan prospeknya yang cerah. Ia juga membuat sovenir khas Jakarta dengan ciri khas tertentu seperti berani memberikan warna-warna yang mencolok khas Betawi. Kelebihan lain adalah kualitas produk yang kuat dan tak mudah rusak.

Bahan Baku. dalam sebulan Ayu membeli bahan baku satu kali namun jika order sedang tinggi ia bisa melakukannya lebih dari satu kali. Bahan baku utamanya ialah resin yang dibeli di pasar Jatinegara Jakarta Timur. Bahan lain seperti cat di Pondok Bambu Jakarta Timur dan Magnet di daerah kota Jakarta Barat. Proses produksi satu model sovenir cukup mudah dan simpel, namun dalam membuat desain keterampilan menggambar dan tingkat kreativitas sangat dibutuhkan. Ayu dibantu oleh dua orang karyawan di bagian produksi dan belanja bahan baku, bagian pengecatan langsung ditangani Ayu sendiri.

Pemasaran. Mengingat keterbatasan modal usaha, pertama kali Ayu memasarkan produk secara online, setelah usaha berkembang dua tahun kemudian ia membuka workshop di Jakarta Timur. Setelah Ayu bergabung dengan UMKM Jakarta ia pun mendapatkan kesempatan memasok produknya dijual di cawan Monas. Saat usahanya mulai berkembang Ayu ikut serta pameran PRJ. Tahun 2007 Ayu pun mempertajam pemasarannya dengan titip jual produk di berbagai toko dan galeri.

Dalam sebulan Ayu memproduksi 1000 buah persatu model produk dan saat ini Ayu telah memiliki lebih dari lima model produk yang setiap bulannya laku terjual. Tak heran ia mampu mengantongi omzet hingga 130 juta perbulan dengan keuntungan bersih 40%-50%.