Wednesday, August 6, 2014

HASIL PANEN BUDIDAYA HIDROPONIK DAN AKUAPONIK MAKIN DICARI

11:01 AM
Jika dulu bercocok tanam identik dengan tanah dan lahan yang luas serta berada jauh dari perkotaan, lain halnya dengan saat ini. Seiring berkembangnya teknologi pertanian dan tuntutan semakin dibutuhkannya sayur dan buah kualitas bagus di swalayan, toko buah dan supermarket membuat para pelaku usaha dibidang pertanian berfikir keras untuk memanfaatkan peluang tersebut. Hingga ditemukan teknologi pertanian yang tidak lagi bergantung pada tanah sebagai media tanam tetapi beralih menggunakan media air sebagai suplai nutrisi tanaman.

Hidroponik, aeroponik dan akuaponik adalah teknologi terapan di bidang pertanian yang menggunakan media air untuk memproduksi sayuran dan buah. Lantaran tidak menggunakan tanah, otomatis hasil panen menjadi lebih bersih dan biasanya jarang terkena hama dan penyakit tanaman yang banyak berasal dari tanah.

Aeroponik dan akuaponik sebenarnya adalah bagian dari pengembangan teknologi hidroponik. Pertanian hidroponik sendiri adalah menanam tanaman dengan cara menggantung tanaman menggunakan tempat styrofoam atau bahan yang bisa mengapung diatas air dengan akar menjulur kebagian bawah pada tempat penampungan air yang telah diberi nutrisi.

Sama seperti hidroponik, namun cara kerja aeroponik akar dibiarkan menggantung dan suplai nutrisi diberikan dengan cara disemprotkan berkali-kali setiap hari. Sedangkan akuaponik adalah sistem pertanian hidroponik yang digabungkan dengan budidaya ikan sebagai sumber nutrisi yang akan diserap tanaman. Pertanian akuaponik ini sendiri bisa dikatakan sebagai pertanian organik hidroponik karena nutrisi yang diserap tanaman bukan berasal dari pupuk sintetis melainkan dari kotoran ikan yang terlarut dalam kolam ikan. Hidroponik memang lebih dahulu diterapkan oleh para pelaku usaha sayuran yang menyuplai ke berbagai supermarket. Sedangkan untuk akuaponik dan aeroponik mulai diterapkan dalam skala bisnis besar sekitar tahun 2000 an. 

Prospek dan persaingan. Edi Sugiyanto dari Agrifarm mengatakan di Indonesia baru sekitar 200 hektar lahan digunakan sebagai lahan pertanian hidroponik. Sedangkan khusus akuaponik dan aeroponik masih sangat sedikit yang melakukan dalam skala besar sehingga persaingan belum ketat. Padahal harga jual sayuran hasil pertanian ini lebih mahal.

Dedi Siswandi, Manager Marketing Parung Farm, menerangkan bahwa bercocok tanam dengan teknologi hidroponik, akuaponik maupun aeroponik bisa dilakukan dilahan terbatas seperti halaman rumah dengan peralatan sederhana seperti bak penampungan air, paralon, pompa, talang air dan styrofoam yang dirangkai. Jika ingin hasilnya maksimal bisa diberikan atap sehingga sayuran yang ditanam tidak langsung terkena sinar matahari maupun hujan. Namun untuk skala usaha, pertanian tersebut dilakukan dalam green house agar suhu, kelembaban tanaman terjaga dan melindungi tanaman dari serangan hama penyakit.

Kelebihan dan kelemahan. Dibandingkan hasil pertanian konvensional yang menggunakan media tanah, berbagai teknik penanaman dengan menggunakan media air ini, menghasilkan sayuran dan buah yang lebih baik. Teksturnya lebih renyah, tidak banyak yang terbuang pada proses pasca panen menjelang panen karena kandungan nutrisinya lebih terukur dan lebih baik.  Bisa panen lebih banyak dan lebih cepat.

Bahkan bagi budidaya sayur dan buah dengan sistem akuaponik lebih menguntungkan lagi, karena dari satu lahan yang sama bisa menghasilkan sayuran dan ikan secara bersamaan.  Sementara itu kelemahan cara ini untuk skala usaha yakni investasi konstruksi bangunan dan instalasi di awal terbilang cukup tinggi jika membangun green house dengan penyanggah besi.

Komoditas yang cocok. Yang harus diperhatikan dalam teknik budidaya hidroponik, aeroponik maupun akuaponik adalah tak semua jenis tanaman bisa ditanam begitu juga dengan jenis ikannya. Hanya sayuran dan buah dengan akar serabut yang bisa ditanam dengan metode ini, sedangkan ikan yang bagus adalah ikan yang dikonsumsi karena kotoran yang dihasilkan lebih banyak.

Produsen bisa menjual langsung produk sayur buahnya ke supermarket seperti yang dilakukan Randi Farm (Purwokerto) atau melalui supplier seperti yang dilakukan Sidik (Jakarta Timur). Selisih harga di supermarket bisa sekitar 20 % - 30 % dari harga di kebun. Agar lebih dikenal luas dan langsung mendapat rekanan bisnis, bisa mempromosikan produk melalui pameran.

3 comments

wah baggus mas artikelnya.....
ijin copy paste dan ijin save image as ya mas..........
terima kasih....
salam kenal, ari :)

share bagi teman-teman sekalian yang tau informasi mengenai tempat pemasaran hasil dari hidroponik

Mau banget nih. Tapi pengetahuan saya masih kurang untuk memulai usaha ini.
Untuk mendapatkan bibit tanamannya yg bagus dimana yah untuk daerah tangerang ?