Wednesday, August 6, 2014

Kesuksesan Bisnis TOPI POLKA

11:35 AM
Kesuksesan Bisnis TOPI POLKAMemanfaatkan rumahnya di Desa Tegalsari, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, Jawa Timur, sebagai tempat produksi, pria yang akrab disapa Koko (42) ini mengklaim sebagai satu-satunya pembuat topi polka di Malang, bahkan di Jawa Timur dan di Indonesia yang memanfaatkan limbah kayu jati. Perajin lainnya mungkin juga membuat topi polka tetapi dengan bahan yang lain.

Koko menyusun lembar demi lembar sisa kayu jati tipis atau biasa disebut vinil menjadi topi. Benda itu tidak saja melindungi kepala dari panas, tetapi juga memiliki nilai estetika tinggi. Ia pun memasukkan unsur-unsur filosofis di dalamnya, seperti pemakaian lima lembar vinil di sisi kiri dan kanan untuk menggambarkan dasar negara Indonesia.

Selain itu terdapat juga satu lembar vinil di bagian tengah, membujur dari depan ke belakang, tepat di atas kepala yang ia sebut sebagai garis khatulistiwa. Untuk mempertegas kesan NKRI, Koko memasangkan pin kecil lambang negara Garuda Indonesia di bagian depan topi.

Perlahan tapi pasti. Begitulah yang terjadi pada usaha Koko. Dalam sebulan ia bisa menjual hingga 20 topi polka. Dengan harga Rp. 225.000 – Rp. 250.000 per unit, pembeli tidak hanya dari sekitar Malang dan Surabaya, tetapi juga dari luar daerah. Topi polka buatannya juga pernah menjadi oleh-oleh pekerja asal Brazil dan Meksiko yang tengah berkunjung ke Malang.

Menggeluti kerajianan tangan skala kecil memang tidak mudah. Koko mengakui dirinya sempat jatuh bangun menekuni usahanya tersebut. 

Pelanggan Khusus.  Usaha pembuatan topi memang gampang-gampang susah. Koko paham bahwa produknya tergolong kategori low moving. Pembelinya hanya orang-orang tertentu yang punya ketertarikan khusus. Mereka juga umumnya puas setelah punya satu barang. Itupun rata-rata topi itu disimpan untuk benda pajangan, bukan untuk aktivitas sehari-hari.

Pembeli biasanya tahu topi polka buatan Koko dari mulut ke mulut. Untuk bisa mendapatkan topi itu, mereka tidak perlu menunggu lama. Di rumah Koko sudah ada beberapa topi jadi jika ada pembeli datang. Kecuali untuk pesanan dalam jumlah besar, ia akan meminta tenggat untuk membuatkannya.

Koko sendiri tidak memiliki gerai pamer. Di malang hanya ada satu toko yang menjual topi tersebut berlokasi di kawasan Balai Kota Malang. Tentu saja harga jual topi di gerai tersebut lebih mahal dari harga di tempat produksi. Untuk memasarkan ke pasar yang lebih luas masih ada kendala.

Awal keterlibatan Koko dengan topi terjadi saat dirinya sering melihat komunitas sepeda yang suka memakai topi klasik. Namun dalam perkembangannya, model topi itu tidak pernah berubah. Bentuknya hanya bulat itu-itu saja. Sementara di rumahnya terdapat limbah kayu jati yang tidak dimanfaatkan. Koko sendiri sebenarnya memiliki kesibukan lain yakni membuat mebel berbahan kayu.

Pria lulusan SMA di Malang inpun memutar otak bagaimana membuat topi polka yang berbeda dengan lainnya. Ia mencoba berbagai cara dan metode bagaimana merangkai lembar demi lembar vinil menggunakan lem dengan kualitas baik. Begitu berhasil , Koko tidak serta merta langsung menjualnya. Topi-topi itu dipakai sendiri. Jika ada teman yang suka dan menginginkan, baru ia membuatnya dengan harga teman. Koko baru benar-benar menjual untuk umum secara profesional pada tahun 2005.

Menggeluti kerajianan tangan skala kecil memang tidak mudah. Koko mengakui dirinya sempat jatuh bangun menekuni usahanya tersebut. Soal tenaga kerja , misalnya, ia pernah mempekerjakan 15 karyawan pada tahun 2009 – 2011 sebelum akhirnya tinggal satu orang. Banyak karyawan lebih memilih pekerjaan lain yang lebih instan.